Kalau bicara soal kuliner Manado, satu hal yang pasti muncul di benak banyak orang adalah sambalnya. Bagi masyarakat di Sulawesi Utara, makan tanpa sambal ibarat makan belum lengkap. Pedas sudah jadi identitas, dan hampir semua hidangan selalu ditemani rasa “menyengat” dari sambal.

Yang menarik, sambal di Manado tidak disebut sambal, melainkan rica. Kata ini sebenarnya berarti cabai dalam bahasa setempat. Entah itu cabai rawit, cabai merah, atau cabai keriting, semuanya tetap disebut rica. Bahkan saat sudah diolah menjadi sambal, istilah itu tetap dipakai—contohnya rica roa dan rica lemong, dua sambal legendaris dari kota ini.

Rica Roa vs Rica Lemong

Sekilas keduanya sama-sama populer, tapi cara pengolahannya berbeda. Rica lemong dibuat dari cabai dan bumbu segar mentah yang diberi perasan jeruk lokal. Rasanya segar, tapi tidak tahan lama—hanya sekitar sehari jika dibiarkan, atau dua hari saja meskipun masuk lemari pendingin.

Berbeda dengan itu, rica roa lebih awet. Sambal ini dimasak dengan bumbu yang ditumis bersama ikan roa yang sudah ditumbuk halus. Karena lebih tahan lama, rica roa lebih sering dijadikan oleh-oleh dan dipasarkan ke luar daerah.

Ikan Roa, Si Ikan Asap

Nama “rica roa” diambil dari bahan dasarnya: rica (cabai) dan roa (ikan). Roa adalah ikan khas perairan Sulawesi dan timur Indonesia. Tubuhnya panjang, ramping, dengan moncong runcing menyerupai paruh berwarna perak kehitaman. Karena bentuknya unik, ikan ini juga punya banyak nama lain di berbagai daerah, seperti ikan julung atau garfish.

Sebelum diolah menjadi sambal, ikan roa biasanya diasapi terlebih dahulu hingga kering. Proses pengasapan membuat aromanya sangat khas, dan ini yang memberi karakter kuat pada rica roa. Setelah kering, daging ikan ditumbuk hingga halus, lalu dimasak bersama bumbu pedas.

Proses Pembuatan

Untuk membuat rica roa, bumbu dasar seperti cabai rawit (kadang dicampur cabai merah), bawang merah, bawang putih, dan tomat dihaluskan lalu ditumis dengan minyak sayur. Setelah harum, ikan roa yang sudah ditumbuk dimasukkan ke dalam tumisan. Campuran ini kemudian diberi garam dan sedikit gula agar rasanya seimbang.

Hasilnya adalah sambal dengan warna merah menyala, rasa pedas menggigit, dan aroma asap ikan yang kuat. Tekstur daging ikan di dalam sambal juga membuat sensasi makan semakin berbeda dibanding sambal biasa.

Identitas Kuliner Manado

Tidak ada catatan pasti kapan rica roa pertama kali muncul, tapi sambal ini sudah lama menjadi bagian dari tradisi kuliner masyarakat Sulawesi Utara. Baik orang biasa maupun pejabat, semua akrab dengan sambal ini. Bahkan warga Manado yang tinggal di luar daerah selalu berusaha mencari cara untuk tetap menikmatinya—entah dengan titip keluarga atau memesan secara online.

Rica roa bukan sekadar sambal. Ia adalah simbol dari kecintaan orang Manado pada rasa pedas, sekaligus bukti bagaimana sebuah olahan sederhana bisa menjadi ikon kuliner yang dikenang banyak orang.